Make Yourself Ashame
Monday, December 26th, 2005Make Yourself Ashame
Judul di atas bukan provokasi. Sama sekali bukan. Jadi jangan terpengaruh untuk melakukan hal-hal yang membuat dunia berpaling dan berkata, “Are you nut or something?!”. Atau membuat sekumpulan orang tiba-tiba mengirimkan tawa yang dialamatkan dengan jelas kepada anda. Jangan lakukan ini. Anda akan tahu akibatnya.
Kalimat itu berada di atas sana karena ada hal yg ingin saya share. Ini berkaitan dengan experience. Some people make mistakes sometimes. And some, included me, make stupid mistake sometimes. Bedanya mistake dengan stupid mistake akan terlihat jelas pada kejadian-kejadian di bawah ini.
Kira-kira ketika saya berusia sekitar 18 tahun, baru saja dinyatakan lulus UMPTN dan sudah berkeliaran dengan bebas di kampus, saya memutuskan untuk ngecengin seseorang. Yang kebetulan orangnya sangat ‘eye-catching’. Keren. Dia beda fakultas dengan saya, tapi beberapa mata kuliah—yang saya jalani dengan sangat senang hati—memungkinkan saya untuk bertemu dia di hari-hari tertentu. Dia tidak tahu kalau saya sering mengamati dia (secret admirer ceritanya nih).
Pada suatu hari, yang ‘kebetulan’ pada hari itu kami mendapatkan kuliah yang sama, saya sengaja berdandan agak lain dari biasanya. Lebih rapi (kebanyakan cewek Fahutan pada saat itu dandannya casual aja, bbrp malah cuek sekalian), sedikit lipstick (benda ini adalah salah satu yang paling jarang dipakai di Fahutan), dan high heels (oh nooo. This is one of the most enemy at that time! I praised myself for being brave wearing this thing!).
Pokoknya hari itu saya oke banget deh (at least I thought so…).
Dan dia ada di sana. Duduk dengan temen-temannya di luar kelas seperti biasa, dan seperti yang sudah saya rencanakan, dia melihat saya. Agak lama. Bagus, pikir saya waktu itu (sambil deg-degan). Mungkin setelah ini dia akan menyapa saya, lalu…
Dia tersenyum. Oh my God! Keren bangeeeeet… tanpa sadar saya balas tersenyum, sambil berjalan ke arah kelas, seanggun mungkin.
Lalu saya jatuh.
@#$%!!!!!
(That s****d high heels!!!!)
Itu adalah saat terakhir saya pakai high heels ke kampus. Dan saya tidak berani lagi ngecengin dia. Saya tidak perlu menjelaskan sebabnya.
Kejadian berikutnya saya alami baru-baru ini. Kebetulan beberapa tahun terakhir ini saya kehilangan berat badan agak drastis, entah karena apa, dan otomatis baju-baju saya jadi longgar semua. Termasuk baju-baju yang saya pakai ke kantor.
Untuk atasan—blus, kemeja, kaus dsb—tidak banyak masalah yang saya dapatkan. Walaupun banyak baju menjadi berkibar-kibar tiap kali dipakai, tapi toh saya masih bisa me-manage agar mereka bisa tetap menempel dengan baik di badan saya.
Lain halnya dengan celana dan rok. Beberapa rok memerlukan peniti tambahan, dan kebanyakan celana saya berubah nama menjadi hipster. Tapi secara keseluruhan saya tidak terlalu terganggu dengan perubahan-perubahan ini, dan ujung-ujungnya saya jadi malas memperbaiki keadaan. Toh masih bisa dijalani. Dan pemikiran ini, terbukti keliru.
Selang satu minggu yang lalu, kira-kira, celana yang saya pakai bermasalah. Melorot sampai ke pinggul. Karena saya duduk terus di mobil selama dua jam (perjalanan menuju kantor), masalah ini belum terdeteksi oleh saya sebelumnya. Tetapi ketika saya mulai jalan-jalan di kantor, barulah terasa repotnya menaikkan ujung celana (kebetulan tidak ada ban pinggangnya) setiap beberapa menit sekali. Dan karena saya memang tidak suka pakai ikat pinggang, celana ini semakin membandel saja seharian itu.
Jadi, hari itu saya berkutat dengan celana kedodoran tersebut, dan sampailah saya pada saat saya harus menaiki tangga (yg letaknya di seberang ruang direktur yang dilengkapi jendela kaca besar), dan celana saya kumat. Sebelum ‘hal2 yg diinginkan’ terjadi, saya berhenti sebentar untuk membetulkan posisi si celana buandel tadi, dan setelah bbrp detik berkutat barulah saya sadar… tamu pak direktur sedang melihat ke arah saya dari jendela besar itu .. dengan senyum yang ditahan..
ARRRRRRGHHH!!!
See? So you now know the difference between mistake and stupid mistake. Dan seperti yang saya sampaikan di atas, jangan terpancing untuk melakukan hal2 yang bisa membuat diri sendiri malu. Ini adalah pesan moral saya kepada anda. Terimakasih atas perhatiannya.



