Archive for December, 2005

Make Yourself Ashame

Monday, December 26th, 2005

        Kittie                                          

                      Make Yourself Ashame

            

           Judul di atas bukan provokasi. Sama sekali bukan. Jadi jangan terpengaruh untuk melakukan hal-hal yang membuat dunia berpaling dan berkata, “Are you nut or something?!”. Atau membuat sekumpulan orang tiba-tiba mengirimkan tawa yang dialamatkan dengan jelas kepada anda. Jangan lakukan ini. Anda akan tahu akibatnya.

           Kalimat itu berada di atas sana karena ada hal yg ingin saya share. Ini berkaitan dengan experience. Some people make mistakes sometimes. And some, included me, make stupid mistake sometimes. Bedanya mistake dengan stupid mistake akan terlihat jelas pada kejadian-kejadian di bawah ini.

          Kira-kira ketika saya berusia sekitar 18 tahun, baru saja dinyatakan lulus UMPTN dan sudah berkeliaran dengan bebas di kampus, saya memutuskan untuk ngecengin seseorang. Yang kebetulan orangnya sangat ‘eye-catching’. Keren. Dia beda fakultas dengan saya, tapi beberapa mata kuliah—yang saya jalani dengan sangat senang hati—memungkinkan saya untuk bertemu dia di hari-hari tertentu. Dia tidak tahu kalau saya sering mengamati dia (secret admirer ceritanya nih).

          Pada suatu hari, yang ‘kebetulan’ pada hari itu kami mendapatkan kuliah yang sama, saya sengaja berdandan agak lain dari biasanya. Lebih rapi (kebanyakan cewek Fahutan pada saat itu dandannya casual aja, bbrp malah cuek sekalian), sedikit lipstick (benda ini adalah salah satu yang paling jarang dipakai di Fahutan), dan high heels (oh nooo. This is one of the most enemy at that time! I praised myself for being brave wearing this thing!).

         Pokoknya hari itu saya oke banget deh (at least I thought so…).

         Dan dia ada di sana. Duduk dengan temen-temannya di luar kelas seperti biasa, dan seperti yang sudah saya rencanakan, dia melihat saya. Agak lama. Bagus, pikir saya waktu itu (sambil deg-degan). Mungkin setelah ini dia akan menyapa saya, lalu…

          Dia tersenyum. Oh my God! Keren bangeeeeet… tanpa sadar saya balas tersenyum, sambil berjalan ke arah kelas, seanggun mungkin.

          Lalu saya jatuh.

         @#$%!!!!!

         (That s****d high heels!!!!)

         Itu adalah saat terakhir saya pakai high heels ke kampus. Dan saya tidak berani lagi ngecengin dia. Saya tidak perlu menjelaskan sebabnya.

         Kejadian berikutnya saya alami baru-baru ini. Kebetulan beberapa tahun terakhir ini saya kehilangan berat badan agak drastis, entah karena apa, dan otomatis baju-baju saya jadi longgar semua. Termasuk baju-baju yang saya pakai ke kantor.

         Untuk atasan—blus, kemeja, kaus dsb—tidak banyak masalah yang saya dapatkan. Walaupun banyak baju menjadi berkibar-kibar tiap kali dipakai, tapi toh saya masih bisa me-manage agar mereka bisa tetap menempel dengan baik di badan saya.

        Lain halnya dengan celana dan rok. Beberapa rok memerlukan peniti tambahan, dan kebanyakan celana saya berubah nama menjadi hipster. Tapi secara keseluruhan saya tidak terlalu terganggu dengan perubahan-perubahan ini, dan ujung-ujungnya saya jadi malas memperbaiki keadaan. Toh masih bisa dijalani. Dan pemikiran ini, terbukti keliru.

         Selang satu minggu yang lalu, kira-kira, celana yang saya pakai bermasalah. Melorot sampai ke pinggul. Karena saya duduk terus di mobil selama dua jam (perjalanan menuju kantor), masalah ini belum terdeteksi oleh saya sebelumnya. Tetapi ketika saya mulai jalan-jalan di kantor, barulah terasa repotnya menaikkan ujung celana (kebetulan tidak ada ban pinggangnya) setiap beberapa menit sekali. Dan karena saya memang tidak suka pakai ikat pinggang, celana ini semakin membandel saja seharian itu.

         Jadi, hari itu saya berkutat dengan celana kedodoran tersebut, dan sampailah saya pada saat saya harus menaiki tangga (yg letaknya di seberang ruang direktur yang dilengkapi jendela kaca besar), dan celana saya kumat. Sebelum ‘hal2 yg diinginkan’ terjadi, saya berhenti sebentar untuk membetulkan posisi si celana buandel tadi, dan setelah bbrp detik berkutat barulah saya sadar… tamu pak direktur sedang melihat ke arah saya dari jendela besar itu .. dengan senyum yang ditahan..

          ARRRRRRGHHH!!!

          See? So you now know the difference between mistake and stupid mistake. Dan seperti yang saya sampaikan di atas, jangan terpancing untuk melakukan hal2 yang bisa membuat diri sendiri malu. Ini adalah pesan moral saya kepada anda. Terimakasih atas perhatiannya.

The Boy

Sunday, December 18th, 2005

                   Afterglow_1  

       Sesosok Tubuh di Trotoar

Anak itu terduduk di teras sebuah toko. Etalase toko itu malam ini sangat meriah, seakan-akan memanggil perhatian setiap orang yang lewat di situ. Tapi tak seorang pun yang tergerak untuk melihat sosok dekil itu. Ia seperti debu; ada, tapi kecil dan tak terlihat.

     Hari ini aku tak dapat uang, Emak. Dan tempatku biasa tidur di gubuk usang itu diambil orang. Maklumlah, gubuk bekas. Setiap orang boleh ke sana. Hanya sayangnya, yang tadi datang itu segerombolan preman. Mabuk, dan dari hidungnya mengepul asap rokok tiada henti. Seperti naga. Dan naga-naga teler itu membuatku kehilangan atap untuk tidur. Mengusirku ke jalanan, hanya dengan selembar koran yang berhasil kutemukan di tempat sampah.

     Aku jadi ingat atap bocor di rumah kita yang belum sempat kubetulkan. Kalau hujan turun, air menetesi lemari lapuk di sudut kamar, sudut tempat menyimpan kayu bakar, yang tentu saja harus dijemur dulu biar kering lagi dan bisa dipakai untuk memasak. Tapi setidaknya kita punya tempat untuk pulang. Walaupun Bapak sudah tak sudi pulang lagi, rumah itu tetap rumah kita yang terasa nyaman dalam kesederhanaannya. Atap rumbianya, dinding gubuknya, lantai tanah dan dipan kayu tempat kita tidur bersama-sama. Aku suka semuanya. Aku paling suka kalau Emak memelukku sampai aku tidur. Sengatan angin dingin takkan terasa olehku lagi. Walaupun kita tak pernah punya selimut. Kehangatan pelukan Emak terasa sampai hatiku.

Mata anak itu beralih ke restoran cepat saji di sebelah toko beretalase meriah tadi. Seluruh dindingnya diganti kaca jernih yang memperlihatkan aktivitas semua pengunjung. Ada banyak orang di sana. Sebuah keluarga yang saling bertukar senyum, sepasang kekasih di meja pojok, rombongan remaja menenteng ponsel serta para karyawan yang mampir sepulang kerja mencari penghilang lapar. Baginya, mereka adalah orang-orang yang hidup tanpa beban. Tidak perlu mengais tempat sampah untuk secuil makanan. Dan tidak perlu pusing ke mana dan dengan cara apa bisa memperoleh uang hari ini.

     Ah, Emak. Sedang apa sekarang? Aku kangen masakanmu. Walau kita makan cuma dengan tempe goreng, kecap dan irisan cabai rawit, selalu terasa lezat. Waktu Bapak masih bersama kita, kadang-kadang dibawakannya ikan asin jambal roti yang kalau dimakan dengan sambal terasi…hmm! Nikmat sekali! Lalu setahun sekali, pada hari raya kurban, kita bisa makan daging. Sumbangan dari orang-orang kaya, sih. Kalau sudah begitu, aku ingin setiap hari adalah hari raya kurban. Biar bisa makan sup daging buatan Emak yang tak ada duanya itu setiap hari… Tapi, sejak Bapak pergi, kita tidak makan ikan asin lagi. Ketemu beras saja sulit. Paling-paling makan singkong. Lalu kulitnya ditumis. Enak, kok. Kalau pulang bekerja menyiangi kebun orang, Emak selalu membawa daun-daunan dan tanaman untuk dibuat sup. Dan hampir setiap hari aku berburu semanggi di sawah Haji Akbar yang luas itu, kemudian dimasak oleh Emak. Semua masakan Emak selalu enak.

     Ahhh..perutku lapar, Emak. Sejak tadi merintih-rintih minta diisi, membuatku sulit memejamkan mata. Tadi malam aku diberi sepotong kue serabi oleh Bang Jul. Lumayan untuk mengganjal perutku selama tidur . Tapi setelah itu, seharian aku mencari, sama sekali tak berhasil mendapat uang. Mungkin orang-orang sudah tak membutuhkan bantuan. Tak ada yang mau tasnya kubawakan. Semakin sedikit rumah berumput untuk kupangkaskan. Loper koran pun enggan dagangannya kujualkan, mungkin takut keuntungannya berkurang. Jadi sekarang cacing-cacing di perutku menjerit-jerit, membuat perutku melilit tidak keruan. Rasanya hampir tercium bau tumis kulit singkong itu.

Beragam kendaraan melintas di depan matanya. Mobil-mobil mewah, metromini, angkot, bis dan minibus, lewat tak berkeputusan. Kadang memercikkan air di genangan, atau menghembuskan asap knalpot berdebu ke arahnya. Tapi yang menarik perhatiannya hanya sebuah colt yang sedari tadi menanti penumpang di tikungan jalan.

     Mobil itu seperti yang membawa Bapak pergi dari rumah. Pergi bersama wanita bergincu tebal itu. Yang tertawanya melengking, membuat telingaku seperti tertusuk jarum. Ketika Emak menangis, memohon agar Bapak tidak pergi, wanita itu cuma tersenyum menyeringai dan menarik lengan Bapak. Anehnya seperti kerbau dicucuk hidungnya, Bapak menurut saja. Meninggalkan aku dan Emak, dan sepertinya enggan untuk pulang dan bertemu kami lagi. Mungkin Bapak sudah hidup enak bersama wanita itu. Tinggal di rumahnya. Makan masakannya. Dan naik mobilnya. Sejak itu Emak sakit-sakitan. Dan aku, pergi ke kota mencari uang.

     Aku sering mengamen, membersihkan kaca mobil di perempatan, atau terkadang jadi ojek payung. Aku pernah jadi pengangkat barang di stasiun, atau bahkan jadi pengemis. Tapi aku tak pernah mencuri. Apapun kukerjakan tapi tidak mencuri. Emak bilang, barang curian takkan membawa berkah. Kita akan terus mencuri dan sulit berhenti. Kecanduan. Bang Jul juga bilang begitu. Dia mau mengantarkan uang hasil jerih payahku untuk Emak, asalkan bukan curian. Aku sangat berterimakasih Bang Jul mau berjalan ke desaku setiap kali ia pulang kampung. Kalau aku yang pulang, uangnya akan habis untuk ongkos. Sayang, kan. Kasihan Emak kalau uangnya cuma sedikit. Uang itu digunakan Emak untuk makan. Aku tahu uang dariku tidak seberapa. Tapi aku ingin Emak bisa makan nasi, dan tidak singkong terus. Dan Emak, setiap kali menangis menerima uang dariku. Suatu kali, aku ingat, aku menabung cukup uang dan bisa pulang. Sampai di rumah aku kaget sekali karena Emak membelikan selembar baju buatku. Emak mengumpulkan uang yang selama ini aku kirimkan untuknya agar aku punya baju di hari Lebaran. Ketika aku tanya kenapa tidak dibelikan makanan saja, Emak bilang ia sudah cukup makan singkong. Membuat aku menangis karena terharu.

Lembaran koran yang tadi jadi alas sekarang jadi selimut. Penuh syukur karena tidak basah, lengan kurusnya menarik “selimut” itu menyelubungi badannya. Matanya mengedip lemah. Pundaknya menyembul, menggigil kedinginan. Gadis kecil, yang tadi makan di restoran cepat saji bersama keluarganya, menunjuk-nunjuk padanya dan langsung disuruh naik ke mobil oleh ibunya. Mengabaikan bulu kuduknya yang berdiri disergap udara dingin, dan jeritan perutnya yang sedari tadi minta diisi, anak itu berusaha tidur.

     Emak, aku sangat rindu padamu. Kalau aku sedang ada di pelukan Emak, takkan terasa sedingin ini. Kalau ada masakan Emak takkan terasa selapar ini. Emak selalu tersenyum walau sedang sedih, tapi rasanya aku tak bisa tersenyum lagi.

Anak itu meringkuk di teras sebuah toko. Etalase toko itu malam ini sangat meriah, seakan-akan memanggil perhatian setiap orang yang lewat di situ. Tapi tak seorang pun tergerak untuk melihat tubuh ringkih itu, apakah masih bernafas atau tidak…

Story of driving part II

Monday, December 12th, 2005

5

                             story of driving part II

klo udah baca part 1 pasti nyambung sama yang ini…

jadi ceritanya aq udah bisa nyetir sejak 17 taun (dulu tuh emang sengaja minta kado ultah sweet seventeen-nya belajar nyetir, biar bokap langsung ngijinin..) TAPI jangan salah sodara-sodara. aq baru bikin SIM taun kemaren. Sekali lagi, biar rada dramatis: SIM nya baru dibikin taun kemaren. jelas?

jadi, selama 8 taun, aq keluyuran di jalan tanpa selembar kertas berlaminating yang superpenting itu (jangan ditiru, highly NOT recommended!!), dan ajaibnya, belon pernah kena tilang, nabrak, ato bikin mobil bokap jadi baret. sesenti pun.

Padahal…. dengan gaya nyetir disasterrific itu (bhsnya Rikku FFX-2), kalo belok ngasal–kalo maju ngebut–kalo brenti ngedadak,  yang bisa bikin jalan kayak abis kena bom atom (berlebihan neh!ini mah cuman pengandaian aja), kudunya salah satu dari polisi pernah nangkep si biang kerok jalanan ini. tapi anehnya nggak. kyknya aq termasuk org yg dianugrahi skill rendah tapi dapet jatah luck tinggi deh. hehehe.

And above of all, bagusnya (ato jeleknya?), aq nggak ngerasa klo punya cara nyetir yg slebor. Dulu pernah disuruh bawa mobil kantor, berhubung ga ada driver, tapi sekali-kalinya dan ga pernah disuruh lagi ampe sekarang. hmm…kenapa ya? apa pada trauma?

Bokap, stlh aq kuliah suka nyuruh bawa mobil klo ada perlu di sekitar komplek rumah. terus ningkat ke jalan raya. lama2 klo lg pergi serumah ke manaaa gitu, pas bokap udah cape aq disuruh bawa. cuman biasanya klo udah aq yg bawa mobil, ga ada yg mau tidur. Ga jelas kenapa.  kadang yg duduk di bangku belakang suka pada jerit2 gitu, tapi aq ga gitu ngeh. aq mikir sih: mreka excited kali. Dan ujung2nya, kalo jeritannya udah kelewat sering, my brother suka ngambil alih kekuasaan atas setir. dan orang yg dikudeta dari tahta (alias myself), ditransfer ke jok belakang dengan sukses. gimana nggak, smua penumpang ngedukung sih.

Tapiii… sesuatu terjadi minggu kemaren. dan peristiwa itu telah membuka mataku ciee..

Here the story goes… aq pergi ke kawinan temen SMU yang nikah (ya iyalah!) di bandung. mobil ada. tapi aq minta ditemenin ama seorang teman, cowok, dan karena dia ga biasa bawa sedan jadi aq yg nyetir (dengan skill yang rendah tadi, remember?).

Dari awal si temen ini udah bisa nilai kalo dari skala 1 sampe 10, dapet nilai 6,5 aja untuk cara menyetir yg aq anut ini, udah amat sangat bagus banget sekali *hallah*

dia bilang, "Yan, serem banget sih cara km bawa mobil."   

"Hah? masa sih?"

"Bener lagi."

"Aaah, karena baru ngerasain aja kali..kan baru kali ini aq nyetirin kamu."

Si temen cuman nyengir. Dan ga banyak komentar lagi. tapi mukanya pasrah gitu.

sekitar satu-dua jam kemudian, pas qta balik dari acara itu, aq pegang setir lagi. jalanan crowded tuh, biasanya driver yang waras suka rada ati2 klo mau lwt jalan situ. tapi malangnya bwt si temen, aq bkn termasuk driver yg waras hehehe.. Lalu tiba2 pas aq mau ngeles dari sebuah motor di kanan, satu mobil di depan all of the sudden ngerem ngedadak, ga bilang2 (ya iyalah), aq spontan aja nginjek pedal rem yang emang biasanya jarang diinjek itu, ampiiiiir aja nabrak. Gila, seinci lagi tuh!!

fiuhh!!untungnya selamet.

Tapi pas aq ngelirik si temen, ekspresinya kayak lagi nonton film horor dan kaki kanannya, tanpa dia sadari dalam posisi lagi ngerem!

Suer lucu banget ngeliatnya.

Tapi aq jadi mikir, setelah semua petualangan ini, dan penderitaan2 orang lain yang menjadi korban,kayaknya udah waktunya aq harus belajar nyetir yang baik dan benar deh… :P

ps: postingan ini ditulis pada tanggal 12 desember 2005

Story of driving part I

Sunday, December 11th, 2005

1

Tadi malem ada anak kosan yang cerita…

Sodaranya dia, sekeluarga, pergi ke Bandung utk suatu urusan. Perginya lewat Cipularang. Pas ngelewatin suatu tanjakan, ga tau kenapa, mobilnya ketiup angin (jangan tanya gimana, yang jelas tu’ angin aq bilang jagoan bener bisa niup mobil). Mobilnya langsung keseret nabrak pembatas, terus jatoh ke bagian bawah tanjakan itu, lumayan tinggi dari tempat semula. Anaknya dua meninggal.

Satu lagi. Bbrp minggu lalu aq dapet email yang nyeritain pengalaman orang2 ketika ngelewatin tempat tertentu di ruas Cipularang. Mereka, dan teman mereka, nyaris aja kecelakaan lantaran ngeliat sesuatu yang setelah diperiksa lagi obyek itu udah ga ada. Kata penduduk sekitar, antara KM 70-an ampe 80-an (sori lupa, yg penasaran pengen baca emailnya boleh request deh) itu emang angker dan sering banget terjadi kecelakaan di sana.

Here’s another one.. jalan yang amblas bbrp meter, dan ngebenerinnya lagi butuh penutupan Cipularang ampe 4 hari…

Sad story.

Sebenernya ada apa ini??

Apa lantaran jalan yang panjang dan ga macet, orang jadi terlena terus nyetir ngasal dan ga waspada? trus angin apa yg bisa nerpa mobil ampe meleng dan nabrak pembatas jalan? apa bener di Cipularang ada hantunya…walah.. yg aneh2 aja.. satu2nya yg masih bisa dijelasin mungkin peristiwa amblas itu kali ya. bisa jadi human error, kesalahan kalkulasi ato kondisi alam aja yg emang nggak kedeteksi sebelomnya.

btw, kejadian2 ini mungkin bisa kita ambil hikmahnya. especially for disaster drivers just like me, yg kalo udah di tol suka ngerasa dunia milik berdua (dengan si mobil…) dan hepi banget kalo udah ‘maen’ di speed 100 km/jam. kayaknya udah waktunya inget mati deh…

talking about nyetir..

banyak orang yg ga tau kalo aq udah bisa nyetir sejak umur 17 taun (that’s..um..8 YEARS AGO..Oh my God! Tua banget ternyata gw ya!). Soalnya jarang banget ke-gep lagi bawa mobil. Maklum, mobil yg ada cuman atu2nya, dan tentu saja dipake ama bokap ngantor. Tapi yang jadi masalah utama sebenernya adalah… bokap ga ngasih ijin bwt bikin SIM. Aq sih curiga sbnrnya dia ga gitu rela anaknya keluyuran pake mobil, dengan resiko nabrak, baret, lupa pulang dsb..dsb.. tapi ga tega nolak permintaan anaknya yg manis dan baik hati ini (yg pgn muntah silakan muntah.. :p).

Apakah tokoh utama kita ini menyerah begitu saja? Tentu saja tidak!!

Pada suatu hari, ketika bokapnya lagi keluar kota, our hero, tanpa dibekali dengan SIM yg amat sangat penting itu,  nekad bawa mobil ke sekolah (yup, the one and only SMANSA Bandung yg kalo telat dateng ga bakal boleh masuk kelas kecuali berhasil nyabotase jam di ruang piket jadi lebih cepet), dengan alasan bangun kesiangan, padahal emang sengaja nyiang-nyiangin diri (bahasa apa pula ini…).

oke, lanjut… jadi ceritanya our hero berhasil bawa mobil bokapnya ke jalan raya dengan bebas merdeka. ga bisa dilukiskan dengan kata2 gimana rasanya pertama kali bawa mobil sendiri, di hari yang cerah ceria, dengan hati yang riang gembira, menuju sekolah tercinta. pokoknya gitu deh. Karena anak2 ga boleh parkir di halaman parkir yg emang disediain bwt guru+tamu, maka our hero markir di sekitar rumah sakit borromeus yang ga gitu jauh dari sekolah. lalu our hero melenggang dengan langkah ringan ke gerbang sekolah untuk mengikuti pelajaran.

Singkat cerita. ga ada masalah apa2 seharian itu. pelajaran lancar. pe-er beres. guru semua baek. oke deh, ayo pulang! Our hero, seperti biasa, pulang lewat jalan Ganeca (itu loh, depan ITB yg anak2 Geodesinya oke punya itu!), terus ke jalan Tamansari…. jalan wastukencana… jalan pajajaran…

Baru inget. Ada yang tertinggal. Dan itu benda yang mahapenting….

TADI KAN PERGI NAIK MOBIL, KENAPA PULANGNYA MALAH NAIK ANGKOT ???!!

Ampun deh. Mobilnya ketinggalan di sekolah!

PS: buat yg kenal sama bokapnya our hero. please don’t tell him. pokoknya jangan.

   

edisi satu…

Sunday, December 4th, 2005

Natfl138 Akhirnya punya blog juga!!

This is a brand new step on my writing life..

Postingan ini bwt ngejawab pertanyaan dr mreka2 yg selama ini udah nanyain, knp aq ga punya blog. Sebenernya udah enam ato tujuh orang yg nanyain pertanyaan yg sama, dan aq berharap stlh ini ga pada nanya lagi. abis bosen :p

Jawaban sebenernya dari pertanyaan di atas adalah… aq GA TAU CARA BIKINNYA. silakan ketawa. ato prihatin. yg jelas dengan jujur aq ngakuin klo bikin friendster–yg sebenernya anak kecil juga tau caranya–adlh salah satu hal di dunia yg aq ga bisa lakuin selain naik motor dan makan honje (tau ga?). memalukan dunia persilatan sih emang, tapi kan lebih baik ngakuin dari awal dripada ngeles tapi ntar ketauan juga…

Awalnya sih gara2 bbrp org yang udah baca "Run!" ngirim imel, dan mreka skalian nanyain alamat friendster ato blog. pertanyaan yg bikin aq ngelus dada, lantaran klo ngejawab ketauan bener gateknya. HARI GENEH GA TAU CARA BIKIN BLOG???? Kalo boleh malu, malu dah.

Ada temen, inisialnya F, nanya, kok penulis ga punya fs sih? dia keukeuh dgn pendapatnya klo aq hrs punya fs. aq pikir emang napa? toh tanpa ikutan fs, selama ada pulpen ama kertas qt msh bs nulis. sukur2 rada ngamodal dikit mah, pake komputer. Si F blg klo ikutan fs qt punya jaringan, tau hal2 yg terjadi di lingkungan, bnyk dpt info, nyalurin isi pikiran lwt blog  dst..dst.. okeh deh. ikutan fs. bikin blog. tp GIMANA CARANYA?? mau nanya mokal duluan. jadinya manggut ajah. dan pertanyaan blon kejawab.

Terus ada seorang temen lagi, inisialnya E. dia tuh punya ponakan baru dan pas aq minta foto si ponakan, dia blg liat aja fsnya dia, soalnya dia naro foto si ponakan itu di situ. still the same problem ama di atas. tapi kali ini aq nebelin muka, nanya ama dia gimana caranya. tapi ternyata oh ternyata, stlh aq nanya (dgn harapan dia bisa bantuin soalnya orgnya baek bgt) ga taunya fs-nya dia itu hasil karya temennya. dengan kata lain si E ini juga ga tau caranya. ya ampuuuunnn…. gatek qo berjamaah! dan pertanyaan di atas masih belon kejawab.

kemudian dewa penolong datang tiba2. ada seseorang berinisial R ngirim imel (ampe dua kali tuh! apa tiga ya?) yg isinya minta aq nge-add diri sendiri ke friendsternya. okelah.. dan stlh di-klik ternyata GAMPANG SEKALI sodara2! langsung bisa bikin blog malah. kayaknya aq hrs bilang tengkyu ke R, atas jasanya yang ga disengaja itu hehehe…