Archive for January, 2007

The Lyric–So What’s The Meaning Of Love Anyway?

Friday, January 26th, 2007

Swanlove

Not A Word

It makes you sad, it makes you mad 

It’s drop dead beautiful

But it’s tormenting painful 

How do you explain a thing called love? 

It hurts, it burns 

Flies you up to the sky 

Or fills your heart with shy 

How do you describe a thing called love? 

I will never tell you I love you 

Cause love is not a word 

Love is an action 

Take my hand I’ll show you something new 

And feel it in your heart 

Feel my emotion 

It makes you happy, it makes you naughty 

Melts you on delusion 

Thrusts you with dejection 

How do you express a thing called love? 

It mends, it pretends 

Spoils as you were a child 

Brings calm or drives you wild 

How do you define a thing called love? 

My feeling is more than a word 

Cause word can be deceiving 

So don’t say it, just show it 

Love is an action 

15 September 2006.

Written for someone who wanted me to.

Office Worker

Thursday, January 11th, 2007

00030545

Gosh.

These must be definitely-the most chaotic-horrible-noisy-days I’ve ever been.

Working is not a friendly word anymore for the past few weeks. WHYYYYYY????

Tetangga sebelah lagi renovasi.

That’s it. The reason is as simple as one-two-three. But the result is as bad as national disaster. Note these:

1. Polusi suara tingkat tinggi. VERY (caps-locked, underlined, and bolded) noisy. Ada rumor kalo mreka sedang membongkar tangga empat lantai untuk kemudian dibangun lagi dengan tangga yang lebih lebar. (fyi, my office is dua ruko dijadiin satu, trus empat lantai ke atas. Mayan gede buat nampung skitar 40-org dengan asumsi 40 org ini ngga maen sepak  bola di dalem, duduk diem dengan manis di meja eh kursi masing2). MASALAHNYA, meja gw just two meters away dari dinding si tetangga yang klewat brisik ituuhhh! Dengan kebisingan sekian desibel ini diduga gw bakal budek di minggu keempat renovasi. Lagian kenapa juga sih Mr. Tetangga itu ngga pesen developer bwt ngebangun ruko jatah dia yang notabene baru itu dengan desain khusus??? Ato menurut dia ngebangun sesuai blueprint planning, terus dibongkar lagi sebelum sempet ditempatin, terus dibangun lagi sesuai selera dia, jatohnya bakalan lebih murah? Some people are just hard to be understood…

2. Gempa bumi lokal. Ato lebih tepat disebut gempa lantai lokal? Eh sumpeh deh, geternya amit2. Kebayang ngga, ngetik di komputer tiba2 hurupnya pada goyang2, dan setelah diamatin ternyata gelas, bolpen, kalender meja, tempat tissue, pengharum ruangan, pot bunga ampe tipp ex pada ikutan goyang? Kalo cuman sebentar mendingan. Ini mah tigapuluh detik kali tigapuluh menit kali tujuh jam dikali lagi lima hari!! Inul dapet saingan dahhh.

3. Komunikasi terancam bubar. Dengan polusi suara sedahsyat ini jangan berharap bisa ngomong dengan suara lirih sok seksi. Ke laut aja deh! Semua orang teriak di kantor gw for the past few weeks, makes me remember days when I was stay in jungle for the sake of my college education, Forestry of IPB.

(Perfect excuse sih sebenernya. Kapan lagi nereakin bos? Hehehe…)

Tapi coba liat situasi di bawah ini:

Gw, mencoba menghubungi 11 orang untuk disuruh dateng ke kantor dalam rangka interview kerja. Backsound: suara bledak-bleduk-jeger dari sebelah, yang dilakukan oleh wallahu alam berapa lusin figuran.

Gw : Halo, dengan Bapak A?! (dengan volume mendekati maksimal)

A    : Ya, betul! (ikutan tereak ga jelas knapa)

Gw : Saya Dian, Pak, dari PT. GPI. Bapak bisa ke kantor saya untuk  wawancara?!

A : Apaa?!

Gw : WAWANCARA, Pak!

A : Hah? Wawan bicara? Siapa Wawan?

Gw : W.A.W.A.N.C.A.R.A , PAK! Interview!

A : Fiyu? Bukannya itu pokalis padi?

Gw : %$#@&!!!!!

So much for losing your hearing and speaking ability at the same time. Dan adegan di atas diulang sebelas kali, sodara2. More-less percakapannya kayak gitu deh. Silakan bayangin segimana desperate-nya gw.

4. Produktivitas terancam. Please deh. Siapa juga yang bisa konsen kerja dengan suara2 nyaingin meriam lodong dan masih juga dikasih getaran mahadahsyat?! Susah payah usaha nyampe ke kantor jam delapan teng-tong, after long trip from bogor to in-the-middle-of-somewhere-of-the-big-city-jakarta, ended in the chaotic of sound in your office, thank you very much. Keknya kerja di perjalanan ke dan dari kantor bakalan jauuuuh lebih epektip di saat2 seperti ini, walopun cuma pake fasilitas hape dan SMS doang.

5. Kantor gw terancam runtuh. Ga heran kalo dengan guncangan2 mahadahsyat itu, gedung kantor gw yang umurnya baru sekitar 2 taunan, mengalami kemungkinan pensiun dini. Eh, look at the bright side, ding. Kalo beneran runtuh kan kantor bisa pindah ke daerah yg lebih ’ngota’ dan mudah dijangkau oleh penduduk bogor kayak gue. Terus gw bisa pergi dari rumah lebih siang dan pulang lebih cepet. Waktu tidur gw jadi lebih banyak. Huehehehehe.. (ktawa desperate lantaran kerjaan yg nggak juga mau kelar).